Melihat taeniasis dan sistisirkosis dari sudut Medical ecology



Taeniasis dan sistisirkosis yang prevalensinya semakin meningkat pada tahun 2012 di ginganyar Bali, Penelitian tahun sebelumnya  menunjukkan bahwa prevalensi taeniasis sebesar  23,8%, dengan prevalensi tertinggi ditemukan di Kecamatan Sukawati, dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingginya prevalensi di daerah tersebut dipengaruhi oleh praktek-praktek masyarakat dan budaya konsumsi daging sapi mentah ( lawar) di daerah ini(Harimbawa, 2013)Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penyakit tersebut tidak semata-mata terjadi karena interaksi agent dengan hostnya namun instrumen budaya berpengaruh dalam proses terjadinya penyakit tersebut. meskipun etiologi penyakit taeniasis dan sistisirkosis adalah cacing Taenia saginata, cysticercus bovis dan Taenia Solium tanpa adanya budaya konsumsi  lawar yang merupakan budaya asli masyarakat setempat, maka penyakit ini tidak akan menjadi penyakit endemik di daerah bali, namun realita yang terjadi adalah sebaliknya yakni di kecamatan sukawati terdapat budaya makan lawar( sayuran yang dicampur dengan daging mentah), apalagi makanan tersebut dikonsumsi saat perayaan-perayaan besar hindu di bali,hal tersebut yang menjadikan tingginya prevalensi penyakit taeniasis dan sistisirkosis di kecamatan sukawati.
Jika dilihat menggunakan pendekatan medical ecology penyakit taeniasis dan sistisirkosis disebabkan oleh pengolahan dan olahan lawar sapi yang masih belum baik pada umumnya masyarakat gemar mengkonsumsi makanan dari daging sapi yang diolah setengah matang atau mentah dan keberadaan warung yang menjual lawar sapi mentah (lawar plek) dan daging tersebut di cincang di atas papan kay yang tidak di cuci dengan baik(hanya disiram saja, dengan alasan untuk menjaga keawetan papan kayu tersebut)di kecamatan sukowati, cacing Taenia saginata akan berkembang/hidup dengan baik apabila manusia makan daging sapi mentah atau kurang matang yang mengandung cysticercus bovis aktif (Sciutto et al.2000) ,selain itu dalam penelitian Harimbawa,oka dkk pada tahun 2012 dikatakan bahwa Sumber lawar sapi berhubungan dengan infeksi Taenia saginata pada konsumen memiliki hubungan yang signifikan yakni (p=0,001), hal tersebut juga telah di buktikan bahwasanya daging yang digunakan di desa sukowati telah terinfeksi cysticercus bovis. sehingga memiliki risiko lebih tinggi untuk menginfeksi konsumen. Informasi menarik dari salah satu pedagang yang berada di pasar bahwa sapi tersebut dipotong di dalam truk jam 03.00 pagi, kondisi sanitasi yang buruk di bali(Gm et al., 1977) dan akses mudah dari babi ke kotoran manusia memudahkan cacing menginfeksi manusia, serta interaksi masyarakat yang berada di kecamatan sukowati dengan lingkungan tersebut dapat mendukung terjadinya infeksi akibat cacing-cacing tersebut.

Reff:
Gm, S., Ss, M., R, S., C, H., R, R., and B, S. (1977). An investigation on taeniasis and cysticercosis in Bali. Southeast Asian J. Trop. Med. Public Health 8, 494–497.
Harimbawa, O. (2013). Prevalensi infeksi taeniasis saginata pada konsumen lawar sapi di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun 2012. Public Health Prev. Med. Arch. 1.
Sciutto et al. Differential diagnosis of taenia saginata and taenia solium infections. Trans R Soc Trap Med; 2000


0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

Powered by Blogger.