Apa yang terjadi saat remaja mengalami pubertas?





Dalam satu siklus kehidupan, setiap manusia melalui berbagai tahap tumbuh kembang, salah satu tahap terpenting dalam tumbuh kembang yang dialami adalah tahap remaja. Dalam tahap ini sebagian besar remaja mengalami perubahan biologis meliputi morfologi dan fisiologi dengan pesat dari masa anak menuju masa dewasa,perubahan tersebut lebih sering dikenal dengan istilah pubertas (Soetjiningsih.2004). Menurut santrock (2007) pubertas adalah sebuah periode dimana kematangan fisik berlangsung pesat, yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh, yang terutama berlangsung di masa remaja awal. Perubahan yang terjadi saat masa pubertas umumnya membuat remaja bingung, ketakutan bahkan kecemasan secara terus-menerus sehingga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan remaja seperti aspek psikologis, sosial maupun perilaku secara langsung. Usia pubertas pada setiap individu cenderung bervariasi pada anak laki-laki pubertas terjadi pada usia 10- 17 tahun sedangkan pada perempuan yaitu usia 9-15 tahun. Sebagian besar masa pubertas mengikuti distrbusi normal dari kurva gauss, dengan standard devasi sekitar 1 tahun, hal tersebut mengindikasikan bahwa 95% remaja di masyarakat mengalami pubertas pada usia 2 tahun dari pada usia sebelumnya (Soetjiningsih.2004). Selain itu karena terjadi tendensi sekuler usia dimulainya pubertas dan usia ahir dari pubertas mengalami pegeseran usia.
Kondisi perubahan  psikologis yang berhubungan dengan masa pubertas  menurut soeroso (2001) yaitu  menurunnya konflik antara orang tua dan anak karena adanya perubahan pola hubungan mereka. Pada masa pubertas,  remaja Mulai memperluas radius sosial keluar dari keluarga dan berkonsentrasi pada hubungan dengan teman oleh karena itu saat pertama kali remaja perempuan menarce, 1 dari 5 remaja cenderung menceritakan kepada temannya , dan setelah periode 2 dan 3 remaja sebagian besar remaja cenderung terbuka kepada teman  dekatnya (santrock.2007). Selain itu  pada masa pubertas, remaja mulai perhatian (praokupasi) terhadap tubuhnya (mc cabe dan ricciardelli  2003&2004 dalam santrock.2007) akibatnya remaja mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang normalitas kematangan fisik, sering terlalu memikirkan tahapan-tahapan perkembangan seksual dan bagaimana proses tersebut berkaitan dengan teman-teman sejenis kelamin serta muncul citra tubuh, masalah lain yang harus menjadi perhatian khusus bagi remaja indonesia adalah pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi tergolng rendah (Israwati.2011). menurut santrock karakteristik pubertas pada remaja tidaklah sama  karena dipengaruhi oleh hal berikut yaitu:
1.     Bawaan/genetik
Kemunculan  pubertas bukanlah suatu  kejadian yang disebabkan oleh lingkungan, melainkan terdapat gen-gen yang berkaitan dengan kemunculan dan berkembangnya pubertas yang terjadi pada remaja (santrock.2007).
2.    Hormon
Pada masa pubertas  terajadi perubahan fisik yang banyak dipengaruhi oleh hormon , seperti munculnya kumis pada anak laki-laki dan melebarnya pinggul anak perempuan yang dipengaruhi  hormon androgen yang dominan pada anak laki-laki dan estrogen yang dominan  pada anak perempuan.
Salah satu hormon androgen yang meningkat pesat pada anak laki-laki di masa  pubertas yaitu hormon testosteron yang meningkat 18 kali lipat di masa pubertas, hormon ini memiliki pengaruh besar terhadap perubahan fisik anak laki-laki, seperti perkembangan genital internal, bertambahnya tinggi badan dan perubahan suara (Hiort.2002 dalam santrock.2007).
Sedangkan pada anak perempuan hormon yang meningkat pesat saat masa pubertas adalah hormon estradiol . hormon ini meningkat 8 kali lipat dari sebelumnya menurut cameron (2004) dalam santrock ( 2007) hormon ini sangat mempengaruhi perkembangan payudara , rahim serta perubahan kerangka.
3.    Sistem Endokrin
Sistem endokrin yang berperan saat masa pubertas adalah hipotalamus, kelenjar pituitari dan gonad (kelenjar seks). hipotalamus berfungsi  untuk memonitor kegiatan makan, minum, dan seks, kelenjar pituitari berfungsi untuk mengontrol pertumbuhan  dan regulasi dari kelenjar lain  sedangkan gonad (kelenjar seks) berfungsi untuk menghasilkan hormon seks pada laki-laki oleh testis dan perempuan oleh ovum (indung telur). Kadar hormon seks yang di seksresikan oleh testis dan ovum diatur oleh hormon yang dihasilkan oleh 2 hormon yang dihasilakn oleh kelenjar pituitari yaitu LH(luteinizing hormone) dan FSH (follicle stimulating hormone) selain itu hipotalamus menghasilkan hormon GnRH.
Adapun mekanisme sistem endokrin ini diatur dengan sistem umpan balik negatif  yaitu apabila kadar hormon seks terlalu tinggi maka hipotalamus dan kelenjar pituitari akan mengurangi stimulasi terhadap gonad (kelenjar seks) yang  berdampak menurunkan sekresi hormon seks oleh gonad (kelenjar seks) begitu pula sebaliknya.
Hormon Pertumbuhan
          Adrenarce dan  gonadarce merupakan 2 tahap pubertas yang dilalui saat perubahan hormon. Adrenarce adalah perubahan hormon adrenal yang umumnya terjadi sebelum masa pubertas yaitun saat usia 6-9 tahun , selama adrenarce hinnga pubertas , kelenjar adrenal menghasilkan androgen adrenal  (aucus dan rainey.2004 dalam santrock. 2007)
          Sedangkan gonadarce adalah perubahan hormon gonad yang menyebabkan kematangan seksual dan perkembangan kematangan organ reproduktif. Gonadarce biasanya terjadi setelah adrenarce selama 2 tahun , masa gonadarce ini dianggap sebagai masa pubertas (archibald, graber &brooks-gunn.2003 dalam santrocks 2007). Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda termasuk usia gonadarce ini, di amerika gonadarce dimulai pada usia 9-10 tahun  pada perempuan kulit putih non-latin dan 8-9 tahun pada anak-anak perempuan afrikaa-amerika (wasserman.2004 dalam santrock 2007) pada anak  laki-laki gonadarce dimulai pada usia 10-11 tahun . saat pertengahan gonadarce pada perempuan terjadi menarce pertama dan pada laki-laki terjadi spermarche.
          Menarce yang terjadi saat pubertas dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu berat tubuh, persentase lemak dalam tubuh . sedangkan pada laki laki faktor nutrisi dapat mepengaruhi dimulainya pubertas.selain itu hormon leptin dapat mempengaruhi usia pubertas keduanya (apter & hermans, 2002;Misra dkk.2004;susman &rogol.2004 dalam santrock 2007).
Pertambahan Tinggi Tubuh yang Pesat
       Laki-laki cenderung lebih pendek dari perempuan sebelum ia mengalami pubertas namun saat anak  laki-laki mengalami pubertas sebagian besar anak laki laki justru akan menyusul tinggi anak perempuan sebayanya bahkan melampauinya. Hal tersebut terjadi karena pertumbuhan pesat (grow spurt ) pada perempuan terjadi 2 tahun lebih cepat dari pada laki-laki saat pubertas . pada perempuan pertumbuhan tinggi tubuh yang pesat terjadi saat umur 9 tahun sedangkan pada laki-laki pada umur 11 tahun . puncak pertumbuhan terjadi saat usia 11,5 tahun pada perempuan dan 13,5 tahun pada laki-laki dengan rata-rata pertumbuhan 3,5 inci/tahun pada perempuan dan 4 inci/tahun pada laki-laki.        Sementara pertumbuhan berat badan pada anak  perempuan cenderung lebih berat daripada anak laki-laki  yaitu sekita 18 pon/tahun yang dimulai sejak usia 12 tahun.
Tendensi Sekuler Pubertas
          Tendensi sekuler pubertas merupakan keadaan dimana usia menerce terjadi pada usia yang lebih muda. menurut santrock (2007) hal ini dipicu oleh meningkatnya kesehatan dan nutrisi, faktor obesitas juga memegang peranan penting. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kaplowitz (2001) dalam santrock (2007) yang menyatakan bahwa semakin besar perkembangan seksual maka semakin besar berat badan mereka.
Dimensi-Dimensi Psikologis Saat Pubertas
1.     Citra tubuh
 Remaja akan mengalami proses prakupasi dimana ia meningkatkan perhatian terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya contohnya  perubahan berat badan, pada  remaja perempuan cenderung berkeinginan memiliki bentuk badan yang  sanagat kurus. Hal tersebut dipengaruhi oleh definisi kecantikan yang diidentikkan dengan tubh yang kurus.
2.    Hormon dan perilaku
Hormon dapat mempengaruhi emosi yang naik turun pada remaja , hal tersebut merupakan karakteristik dari remaja (Archibald dkk. 2003 dalam santrock.2007) beberapa penelitian membuktikan bahwa kadar androgen yang lebih tinggi pada laki laki , berhubungan dengan agresivitas dan perilaku lainnya (van goozen dkk.1998 dalam santrock 2007). Androgen adrenal yang tinggi pada perempuan berhubungan dengan perilaku negatif pada perempuan (rowe dkk.2004) meskipun demikian hormon bukan satu-satunya faktor determinan perilaku pada remaja. Seperti faktor sosial menurut Marheni,A(2004) seorang remaja akan berperilaku sesuai dengan kelompok dimana ia berada atau akan menyesuaikan perilaku yang dikehendaki kelompoknya.oleh karena itu perilaku pada remaja tidak hanya disebabkan oleh pengaruh perubahan hormon.
3.    Menerce dan siklus menstruasi
Saat memasuki masa pubertas pada umumnya terjadi perubahan konsep diri yang menyebabkan krisis identitas pada remaja yaitu suatu tahap untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahn penting pada remaja yang berkaitan tentang identitas remaja yang melibatkan aspek mental, emosional maupun sosialnya. Termasuk ketika remaja perempuan pertama kali mengalami menerce harus mampu beradaptasi dengan keadaan yang menimpanya. Remaja perempuan memiliki reaksi yang berbeda terhadap menerce, menurut santrock (2007) sebagian besar remaja memberikan reaksi ringan yaitu cemas, sedikit gelisah terkejut atau gembira.sebagian besar remaja perempuan memberikan respon positif yaitu remaja perempuan beranggapan bahwa menerce merupakan indek kematangan mereka, laporan positif lainnya adalah bahwa remaja tersebut sudah mampu memiliki anak dan sudah menyerupai wanita dewasa. Sedangkan laporan negatif yang paling sering diungkapkan ketika menerce adalah sebagian besar remaja perempuan merasa kerepotan membawa pembalut dan sedikit risih , dan sebagian kecil remaja perempuan menyatakan bahwa mereka tidak nyaman, berprilaku terbatas serta merasa ada perubahan emosi.
Pada sebagian besar remaja mengalami menerce pada waktu yang tepat, selanjutnya siklus menstruasi akan terus terjadi setiap bualan sesuai siklus menstruasi pada setiap individu. Dan sebagian remaja mengalami menerce dini atau lebih lambat sehingga dapat diduga mempengaruhi siklus menstruasinya.
4.    Kematangan dini dan lambat
Pada umumnya remaja laki-laki yang mengalami kematangan dini cenderung memandang dirinya lebih positif dari pada remaja perempuan yang mengalaminya, perempuan yang mengalami kematangan dini banyak mengalami masalah di sekolah, depresi, merokok, depresi, lebih mandiri dan lebih populer dari pada remaja perempuan yang mengalami kematangan yang lambat ,sementara remaja laki-laki yang mengalami kematangan yang lambat cenderung lebih fokus dalam mengeksplorasi berbagai prestasi.adapun remaja perempuan yang mengalami kematangan lambat di ahir masa remaja cenderung lebih percaya diri karena remaja perempuan yang matang cenderung lebih pendek dan gemuk dan remaja yang mengalami kematangan lambat cenderung memiliki tubuh tinggi dan kurus yang lebih sesuai dengan definisi kecantikan feminim yang ideal bagi orang amika (santrock.2007).
Saat Pubertas dan Pemeliharaan Kesehatan
Saat pubertas remaja mengalami pertumbuhan tercepat kedua setelah yang pertama yaitu 1000 hari pertama kehidupannya , oleh karena itu nutrisi yang seimbang sangat diperlukan guna mencapai pertumbuhan yang optimal. Kurangnya nutrisi saat masa ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan seperti perlambatan pertumbuhan atau terhenti , kematangan seksual yang lambat. Oleh karena itu pemeliharaan kesehatan penting dilakukan agar tumbuh kembang remaja baik dan optimal. Rendahnya pengetahuan remaja indonesia terkait kesehatan reproduksi juga harus diperhatikan secara khusus agar tidak menimbulkan masalah yang berdampak kepada aspek sosial,psikologis dan aspek lainnya pada remaja.


0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

Powered by Blogger.