Membaca Takdir

"Benar, aku harus banyak belajar sampai mampu mengeja takdir yg Ia dituliskan "

Perjalanan manusia itu memang unik, meskipun kita memiliki kuasa atas tangan dan kaki kita, tak ada yg selalu benar menebak perjalan yg pasti akan ditempuhnya, seperti langkah kakiku saat ini, tak pernah ku sangka aku akan berada di tanah subur ini, bertemu banyak orang yang memiliki banyak cinta dan harapan, disini aku benar benar melihat bagaimana usaha keras orang tua untuk melihat anaknya tetap sehat,
Hal lain yg menarik disini adalah upaya tradisional yg lebih dipilih karena alasan ekonomi, tak ada masalah dengan kepercayaan masyarakat terhadap nakes, namun lagi lagi uang yang mereka miliki saat ini adalah uang yg harus mereka tabung untuk makan esok harinya.
Pendidikan seolah hanya ditemukan sampai mereka bisa membaca dan menghitung saja, selebihnya tidak diperlukan karena waktu mereka sepenuhnya dialokasikan untuk memenuhi kehidupan mereka.
Akupun merasa malu melihat kondisi kita, meskipun tidak sesempurna harapan kita, ternyata hidup kita berkali kali lipat lebih sempurna dengan kehidupan mereka, mungkin ini sebabnya ada seseorang yg pernah berkata " jangan pernah membandingkan kesempurnaan hidupmu dengan kesempurnaan kehidupan orang lain karena itu tak akan pernah sama ". Oleh karena itu hal utama yg saat ini dapat dilakukan adalah mensyukuri apa yg Allah berikan untuk hidup kita agar kita mampu untuk menyempurnakannya.
Pelajaran hangat yang aku temukan adalah cinta luar biasa yang mereka miliki, ketiadaan mereka justru menjadi kekuatan mereka untuk menjalani kehidupan yg keras untuk mereka. Thanks Allah... I realy believing you and loving you
         
 Baros, 4 Maret 2019

Pendar Bintang

       Pagi ini aku teringat  tentang sebuah nasehat yang pernah dikatakan oleh abah, tentang cara pandang, setiap kali aku duduk bersamanya, kalimat yang tak pernah luput dari obrolan kami bahwa "setiap orang itu spesial, unik, tugas kita berjalan bersama ke arah yang sama", dan jawabanku selalu sama, selalu kujawab dengan pertanyaan "ke arah mana?", abahku selalu tersenyum ketika aku menanyakan hal demikian " suatu saat kamu pasti mengerti " 
     Sudah menjadi kebiasaan ketika bulan purnama, lampu rumah dipadamkan, dan abah dan kakakku membawa karpet dan menggelarnya di halaman rumah, kemudian ummy dan adik adikku  bergegas menyusul kami dengan membawa cemilan favorit kami, tahu goreng dan petis buatan ummy, tiba tiba abah membuka pembicaraan "ini nikmat allah yang luar biasa,  bisa berkumpul dibumi allah, dan melihat lukisan galaksi yang luar biasa", aku tersenyum karena benar malam itu langit luar biasa menakjubkan, "tapi sayang ya bah, keindahan ini hanya bisa dinikmati satu malam saja", "berarti allah menyediakan banyak keindahan lain dik di malam-malam lainnya, sesuatu yang memang benar diyakini keberadaannya tidak bisa dieksekusi hanya dengan hal yang nampak secara dzahir saja, coba tebak malam ini selain langit, bulan dan bintang ada apa lagi diatas sana? jawaban kalian dalam melihat sesuatu, menggambarkan kemana arah pemikiran kalian dan menentukan tindakan kalian, jadilah kalian arif dalam melihat sesuatu, malam ini banyak yang abah lihat, salah satunya abah liat matahari loh...." 
       Malam itu aku berfikir dan mencari-cari matahari yang ada di langit malam, namun malam itu aku tak melihat apapun selain bulan, bintang dan langit. aku kembali mendengarkan deklarasi adik bungsuku, sebagai ketua kelas di PAUD Al-Ikhlas.

Pages (6)123456 Next »

Search This Blog

Powered by Blogger.